GUDEP IBNU BATUTAH
(SIAGA PUTRA SDN 06 KOTAPADANG)
Pemberian nama Gugus Depan Putra Perindukan Siaga SD Negeri 06 Kotapadang dengan Nama Ibnu Batutah karena terinspirasi dengan sosok Ibnu Batutah sebagai seorang Pengembara Muslim yang sangat tangguh dan tak terkalahkan, dengan harapan Siaga Putra SDN 06 Kotapadang dapat menjadi Siaga yang tangguh setangguh Ibnu Batutah.
Berikut sekilas kisah dari Ibnu Batutah:
Ibnu Batutah adalah seorang Tokoh Muslim asal Maroko itu lahir tahun 1304 M. Ia sangat gemar
melakukan pengembaraan ke seluruh penjuru dunia. Sosoknya disebut-sebut
sebagai pelopor petualang Muslim abad 14 yang tak pernah tertandingi. Meski ada
nama melegenda seperti Marcopolo dan Colombus yang juga melakukan penjelajahan
dunia, namun masih tidak sebanding dengan Ibnu Batutah terutama dalam kuantitas
perjalanan. Karenanya Ibnu Batutah dijuluki dengan sebutan ‘Pengembara Muslim’.
Ibnu Batutah memilik hobi
mengunjungi negara di dunia untuk saling mengenal manusia dengan berbagai latar
belakang dan budaya. Penjelajahannya untuk pertama kali diawali dengan
menunaikan ibadah haji. Saat itu, ia masih sangat muda dan berusia 21 tahun.
Berawal dari negaranya melewati ratusan kilometer menyusuri gurun yang gersang
dan ganas. Pada masa itu juga tantangan dan rintangan yang harus
dihadapinya yaitu perompak-perompak yang bisa mengancam keselamatan jiwanya.
Riwayat Ibnu Batutah
Abu Abdullah Muhammad bin
Battutah (bahasa Arab: أبوعبدﷲ محمد إبن بطوطة, Abu Abdullah
Muhammad ibn Bathuthah) atau juga dieja Ibnu Batutah (24 Februari 1304 –
1368 atau 1377) adalah seorang pengembara Berber Maroko. Ia lahir di
Tangier, Maroko sekitar tahun 1304. Diusianya yang ke-20, ia sudah pergi haji
dan ziarah ke Mekah. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan spiritualnya hingga
melintasi 120.000 km ke sepanjang negara Muslim, sekitar 44 negara modern.
Atas dorongan Sultan Maroko,
Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana
bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun
mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan
catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.
Hampir semua yang diketahui
tentang kehidupan Ibnu Batutah datang dari dirinya sendiri. Meskipun dia
mengklaim bahwa hal-hal yang diceritakannya adalah apa yang dia lihat atau dia
alami, kita tak bisa tahu kebenaran dari cerita tersebut.
Perjalanannya ke Mekah
melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada
titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk, yang relatif aman. Jalur yang
umu digunakan menuju Mekah ada tiga, dan Ibnu Batutah memilih jalur yang paling
jarang ditempuh: pengembaraan menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur
melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di ‘Aydhad. Tetapi, ketika
mendekati kota tersebut, ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian
lokal.
Kembail ke Kairo, ia
menggunakan jalur kedua, ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan
alasan keterangan/anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama,
bahwa ia hanya akan sampai di Mekah jika telah melalui Suriah. Keuntungan lain
ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang
jalur tersebut — Hebron, Yerusalem, dan Betlehem, misalnya — dan bahwa
penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan para peziarah.
Setelah menjalani Ramadhan di
Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800
mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Muhammad. Empat hari
kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Setelah melaksanakan
rangkaian ritual haji, sebagai hasil renungannya, dia kemudian memutuskan untuk
melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya adalah Il-Khanate (sekarang Iraq dan
Iran).
Dengan cara bergabung
pada suatu rombongan, dia melintasi perbatasan menuju Mesopotamia dan
mengunjungi Najaf, tempat dimakamkannya khalifah keempat Ali. Dari
sana, dia melanjutkan ke Basrah, lalu Isfahan, yang hanya beberapa dekade jaraknya
dengan penghancuran oleh Timur. Kemudian Shiraz dan Baghdad (Baghdad belum lama
diserang habis-habisan oleh Hulagu Khan).
Di sana ia bertemu Abu
Sa’id, pemimpin terakhir Il-Khanate. Ibnu Batutah untuk sementara
mengembara bersama rombongan penguasa, kemudian berbelok ke utara menuju Tabriz
di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju Mongol, yang merupakan pusat
perdagangan penting. Setelah perjalanan ini, Ibnu Batutah kembali ke Mekah
untuk haji kedua, dan tinggal selama setahun sebelum kemudian menjalani
pengembaraan kedua melalui Laut Merah dan pantai Afrika
Timur. Persinggahan pertamanya adalah Aden, dengan tujuan untuk berniaga
menuju Semenanjung Arab dari sekitar Samudera Indonesia. Akan tetapi, sebelum
itu, ia memutuskan untuk melakukan petualangan terakhir dan mempersiapkan suatu
perjalanan sepanjang pantai Afrika.
Menghabiskan sekitar
sepekan di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia,
Mogadishu, Mombasa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti
perubahan arah angin, dia bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab
selatan. Setelah menyelesaikan petualangannya, sebelum menetap, ia
berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekah
lagi. Setelah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di
kesultanan Delhi. Untuk keperluan bahasa, dia mencari penterjemah di Anatolia.
Kemudian di bawah kendali
Turki Saljuk, ia bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut
dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai selatan Turki sekarang. Dari
sini ia berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam. Setelah
menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa, di Crimea, dan memasuki tanah Golden
Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan
dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.
(Peta perjalanan Ibnu Batutah hingga ke Aceh Indonesia)
Melebihi Marcopolo
Perjalanan awal Ibnu
Batutah dimulai dari Tangier menuju Mekah. Untuk menghindari berbagai resiko buruk
seperti diserang perampok, selama perjalanan Ibnu Batutah bergabung dengan
kafilah yang akan menuju Mesir. Bersama kafilah itu, Ibnu Batutah menyusuri
hutan, bukit dan pegunungan bergerak menuju Tlemcen, kemudian tiba di Tunisia
dan tinggal di sana selama dua bulan.
Dari Tunisia, ia dan
rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Libya. Sejak meninggalkan Tangier
hingga Libya, Ibnu Batuta telah menempuh perjalanan darat sejauh hampir 3500 km
melintasi Afrika Utara. Delapan bulan sebelum musim haji dimulai, Ibnu Batutah
memutuskan untuk mengunjungi Kairo. Pada tahun 1326, Ibnu Batuta dan
rombongannya tiba di Pelabuhan Alexandria. Ibnu Batuta sangat terkesan melihat
Pelabuhan Alexandria. Saat itu, Alexandria merupakan pelabuhan yang sangat
sibuk dengan berbagai aktivitas dan berada di bawah kendali Kerajaan Mamluk.
Setelah beberapa pecan di
Alexandria, Ibnu Batutah singgah di Kairo, kemudian melanjutkan perjalanannya
ke Damaskus. Selama 24 hari di Damaskus, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya
ke Mekah melalui jalur Suriah. Sepanjang jalur itu, ia banyak mengunjungi
tempat-tempat suci Al Khalil (Hebron), Al-Quds (Jerussalem), Bethlehem.
Dibawah pengawasan
Kerajaan Mamluk yang menjamin keamanan para jamaah haji, maka ia dan
rombongannya dapat tiba di Madinah dengan selamat. Setibanya di Madinah, ia
tinggal selama empat hari, lalu bergegas menuju Mekah dan melaksanakan ibadah
hajinya.
Garis besar perjalanan
Ibnu Batutah berawal dari Maroko menuju Aljazair, Tunisia, Mesir, Palestina,
Suriah, dan Mekah. Setelah mengembara ke Irak, Shiraz, dan Mesopotamia, Ibnu
Batutah melaksanakan ibadah haji yang kedua dan tinggal di Mekah selama tiga
tahun. Kemudian dia pergi ke Jedah dan melanjutkan perjalanan ke Yaman dan
meneruskan perjalanan ke Mombasa Afrika Timur.
Pada tahun 1332 setelah
dari Kulwa, Ibnu Batutah pergi ke Oman melalui selat Hormuz, Siraf, Bahrain,
dan Yamama untuk kembali melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Setelah itu Ibnu
Batutah memutuskan untuk pergi ke India melalui Jedah. Namun dia berubah pikiran
dan memutuskan untuk kembali mengunjungi Kairo, Palestina, dan Suriah.
Setibanya disana, Ibnu Batutah melanjutkan kembali perjalanannya ke Asia Kecil
melalui jalur laut menuju Anatolia dan meneruskan petualangannya dengan
melintasi Laut Hitam.
Setelah beberapa lama dan
berada dalam perjalanan yang penuh bahaya, akhirnya Ibnu Batutah tiba di Turki
melalui selatan Ukraina. Ibnu Batutah kemudian meneruskan penjelajahannya ke
Khurasan dan mengunjungi kota-kota penting seperti Bukhara, Balkh, Herat, dan Nishapur.
Ibnu Batutah melintasi pegunungan Hindukush untuk tiba di Afganistan untuk
selanjutkan masuk ke India melalui Ghani dan Kabul.
Ibnu Batutah terus
menyusuri Lahri, Sukkur, Multan, Sirsa, dan Hansi akhirnya tiba di Delhi.
Selama beberapa tahun disana, ia disambut keramahan Sultan Mohammad Tughlaq.
Setelah kunjungannya di Delhi, Ibnu Batutah kembali meneruskan perjalanannya
melewati India tengah dan Malwa, kemudian dia menggunakan kapal dari Kambay
menuju Goa.
Tiba di Aceh
Setelah mengunjungi
banyak tempat sebelumnya, kemudian Ibnu Batutah tiba di Pulau Maladewa melalui
jalur pantai Malabar dan selanjutnya terus menyeberang ke Srilanka. Ibnu
Batutah masih terus melanjutkan penjelajahannya hingga mendarat di Coromandal
dan kembali lagi ke Maladewa hingga akhirnya dia berlabuh di Bengal dan
mengunjungi Kamrup, dekat Dhaka.
Ibnu Batutah berlayar
sepanjang pantai Arakan dan kemudian tiba di Aceh, tepatnya di Samudera Pasai.
Setelah kunjungannya di Aceh, ia meneruskan perjalanan ke Kanton lewat jalur
Malaysia dan Kamboja. Setibanya di Cina, Ibnu Batutah terus berpetualang
ke Peking. Lalu ia menuju Calicut dan meneruskan perjalanannya ke Iran, Irak,
Suriah, Mesir, kemudian menunaikan haji di Mekah. Setelah ibadah hajinya
yang terakhir, Ibnu Batutah kembali ke kampung halamannya. Pada tahun 1369, di
usia 65 tahun, Ibnu Batutah meninggal dunia, setelah 12 tahun menyelesaikan
tulisannya, Rihlah. (R02/P4).
Sumber: Jurnal Halal No. 111 Januari-Februari Th. XVIII 2015